Gerakan Perdamaian yang Tersisih: Sejarah Aktivisme Anti-Nuklir yang Jarang Diceritakan
Ada ironi pahit dalam cara sejarah mencatat gerakan perdamaian anti-nuklir: momen-momen paling dramatis dan berpengaruh sering kali dikurangi atau disingkirkan dari narasi resmi. Yang muncul di buku teks adalah perjanjian-perjanjian yang ditandatangani pemimpin berjas di ruang berpendingin udara, bukan wajah-wajah perempuan yang selama sembilan bulan mendirikan kemah di luar pangkalan militer Greenham Common di Inggris, menolak bergerak meski angin musim dingin membekukan jari mereka.
Greenham Common adalah salah satu episode paling menakjubkan dalam sejarah aktivisme. Pada September 1981, sekelompok perempuan dari Wales berjalan kaki 120 mil ke pangkalan militer di Berkshire untuk memprotes rencana penempatan rudal jelajah nuklir AS. Mereka berniat pergi setelah menyampaikan tuntutan. Tapi tuntutan itu diabaikan. Jadi mereka tinggal. Selama jeduaan belas tahun. Pangkalan itu akhirnya ditutup pada 1993, dan rudal-rudal itu dipindahkan. Apakah itu kemenangan gerakan? Para analis masih berdebat. Tapi apa yang tidak bisa dibantah adalah bahwa ribuan perempuan biasa, tanpa sumber daya, tanpa senjata, mampu membuat denting yang terdengar di parlemen.
Jauh sebelum itu, pada akhir 1950-an dan awal 1960-an, gerakan Campaign for Nuclear Disarmament (CND) di Inggris memperkenalkan simbol yang kini kita kenal sebagai “tanda perdamaian” — lingkaran dengan garis vertikal dan dua garis diagonal ke bawah. Simbol itu dirancang oleh desainer grafis Gerald Holtom untuk pawai pertama CND dari London ke Aldermaston pada 1958. Ironi yang menarik: simbol perdamaian yang hari ini menghiasi kaos turis di seluruh dunia lahir dari gerakan anti-nuklir yang sangat serius.
Di Amerika Serikat, Physicians for Social Responsibility (PSR) yang berdiri tahun 1961 mengambil pendekatan berbeda: mereka berbicara dengan bahasa sains dan kedokteran, bukan retorika ideologis. Mereka menerbitkan penelitian tentang dampak medis perang nuklir di jurnal ilmiah bereputasi. Pada 1985, Lester Grinspoon dan Bernard Lown — anggota PSR — bersama mitranya dari Soviet menerima Nobel Perdamaian melalui International Physicians for the Prevention of Nuclear War. Hadiah itu adalah pengakuan bahwa suara ilmuwan dalam perdebatan kebijakan senjata memiliki bobot moral yang tidak bisa diabaikan.
Yang sering hilang dari narasi besar itu adalah gerakan-gerakan di negara berkembang. Pasifik Selatan memiliki sejarah perjuangan anti-nuklir yang luar biasa intens. Kepulauan Marshall, Polinesia Prancis, Australia — semua menjadi lokasi uji coba nuklir yang meninggalkan luka fisik dan budaya yang belum sembuh. Gerakan anti-nuklir di kawasan ini bukan sekadar idealisme — ia adalah respons terhadap kekerasan nyata yang dilakukan atas nama “kemajuan ilmu pengetahuan” dan kepentingan geopolitik kekuatan besar.
Hari ini, aktivisme anti-nuklir menghadapi tantangan yang berbeda dari era Perang Dingin. Ancamannya lebih terdispersi dan lebih kompleks. Ada proliferasi nuklir oleh negara-negara baru. Ada terorisme nuklir sebagai ancaman non-negara. Ada perdebatan tentang energi nuklir sipil versus militer yang tidak bisa lagi dipisahkan dengan garis tegas. Ada juga persaingan kekuatan besar yang membuat dialog multilateral lebih sulit dari sebelumnya.
Tapi ada yang tidak berubah: kekuatan cerita manusia. Para penyintas Hiroshima dan Nagasaki yang masih hidup — yang jumlahnya terus berkurang dimakan usia — menyampaikan kesaksian mereka dengan energi yang tidak padam. Setsuko Thurlow yang kini berumur delapan puluhan masih berpidato di konferensi internasional, masih menerima undangan berbicara di universitas. Ia tahu bahwa ketika generasi hibakusha tidak ada lagi, hanya tulisan dan rekaman yang tersisa. Itulah mengapa mendokumentasikan cerita mereka bukan sekadar proyek sejarah — ia adalah tindakan pencegahan terhadap amnesia kolektif yang sangat berbahaya.
Gerakan perdamaian bukan soal naivitas atau utopia yang tidak realistis. Ia adalah tentang pekerjaan panjang dan tidak glamor untuk mengubah cara manusia berpikir tentang keamanan, kedaulatan, dan kekuasaan.