Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
Zionist Organization of America
Zionist Organization of America
  • Home
  • About
  • Contact
  • Home
  • About
  • Contact
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Default

Hiroshima, 80 Tahun Kemudian: Mengapa Dunia Masih Belum Belajar dari Abu Nuklir

By Brooklyn Holt
July 4, 2026 3 Min Read
Comments Off on Hiroshima, 80 Tahun Kemudian: Mengapa Dunia Masih Belum Belajar dari Abu Nuklir

Setiap tanggal 6 Agustus, lonceng perdamaian berdentang di Taman Perdamaian Hiroshima. Ribuan orang berkumpul dalam hening, menatap air Sungai Motoyasu yang dulu berwarna merah darah. Tapi di luar upacara peringatan itu, ada kenyataan yang jauh lebih sunyi dan mengganggu: jumlah hulu ledak nuklir aktif di dunia tidak pernah benar-benar berkurang secara bermakna. Mereka hanya berpindah tangan, disembunyikan lebih rapi, atau dibungkus retorika geopolitik yang lebih halus.

Saya pertama kali membaca laporan detil tentang dampak bom atom Hiroshima ketika masih duduk di bangku SMA. Buku itu bukan buku sejarah biasa — isinya kesaksian para hibakusha, para penyintas yang tubuhnya menyimpan jejak radiasi puluhan tahun setelah ledakan. Ada seorang perempuan bernama Setsuko Thurlow yang mendeskripsikan bagaimana ia melihat teman sekelasnya terbakar hidup-hidup, dan bagaimana ia sendiri ditarik keluar dari reruntuhan dengan kulit mengelupas. Buku itu mengubah cara saya memandang konsep “kemenangan perang” untuk selamanya.

Yang membuat situasi hari ini lebih mengkhawatirkan bukan hanya soal jumlah senjata — meskipun angkanya tetap mengerikan, sekitar 12.000 hulu ledak nuklir tersebar di sembilan negara menurut data terbaru Federation of American Scientists. Yang jauh lebih mengkhawatirkan adalah erosi kepercayaan antarnegara yang membuat perjanjian pengendalian senjata semakin rapuh. Perjanjian INF antara Amerika Serikat dan Rusia runtuh pada 2019. Pembicaraan perpanjangan New START tersendat. Sementara negara-negara seperti Korea Utara terus mengembangkan kapasitas nuklirnya dengan ambisi yang tidak tersembunyikan.

Ada argumen yang sering dilontarkan para penganut deterensi nuklir: bahwa senjata-senjata itu justru menjaga perdamaian karena tidak ada pihak yang berani menggunakannya terlebih dahulu. Argumen ini disebut MAD — Mutually Assured Destruction, atau Kehancuran Bersama yang Terjamin. Sekilas terdengar logis. Tapi logika ini mengandung asumsi yang sangat berbahaya: bahwa setiap pemimpin selalu rasional, bahwa tidak akan pernah ada kecelakaan teknis, dan bahwa sinyal radar tidak akan pernah salah dibaca. Kenyataannya, sejarah penuh dengan momen di mana dunia hampir berakhir karena kesalahan manusia biasa.

Pada 1983, seorang perwira militer Soviet bernama Stanislav Petrov menerima sinyal dari sistem peringatan dini yang mengindikasikan bahwa Amerika Serikat telah meluncurkan lima rudal balistik. Prosedur standar mengatakan ia harus segera melapor ke atasan dan mempersiapkan respons balasan. Petrov memilih untuk menunggu. Intuisinya mengatakan ini terlalu sedikit untuk serangan sungguhan — mengapa hanya lima? Ternyata itu memang alarm palsu akibat pantulan matahari yang salah dibaca sensor. Satu penilaian manusia yang salah malam itu bisa mengakhiri peradaban.

Momen-momen seperti itu tidak populer diceritakan ulang karena terdengar terlalu dramatis, terlalu dekat dengan fiksi ilmiah. Tapi mereka nyata, terdokumentasi, dan seharusnya terus mengingatkan kita bahwa kepemilikan senjata nuklir tidak pernah benar-benar “aman” — bahkan di tangan negara yang mengklaim dirinya paling bertanggung jawab sekalipun.

Gerakan perdamaian global hari ini mungkin tidak semarak tahun 1980-an ketika jutaan orang turun ke jalan memprotes perlombaan senjata. Tapi semangat itu tidak padam. International Campaign to Abolish Nuclear Weapons (ICAN) berhasil mendorong lahirnya Treaty on the Prohibition of Nuclear Weapons (TPNW) pada 2017, yang kini sudah diratifikasi lebih dari 60 negara. Memang, tidak satu pun dari sembilan negara pemilik nuklir yang menandatanganinya. Tapi setiap negara non-nuklir yang bergabung adalah suara moral yang tidak bisa diabaikan sepenuhnya.

Pertanyaan yang sering mengusik saya: apakah kita perlu menunggu bencana lagi untuk benar-benar bertindak? Hiroshima sudah berbicara. Nagasaki sudah berteriak. Apakah kita memang harus mendengar abu berbicara sekali lagi?

Author

Brooklyn Holt

Follow Me
Other Articles
Previous

Perbandingan Dua Raksasa Gaming: Pendekatan Artistik PGSoft vs Mekanik Agresif Pragmatic Play

Next

Bahaya Tersembunyi: Radiasi Nuklir dan Dampaknya pada Ekosistem Laut yang Sering Terlupakan

Recent Posts

  • Energi Nuklir Sipil dan Dilemanya: Ketika Solusi Iklim Bertemu Risiko Proliferasi
  • Gerakan Perdamaian yang Tersisih: Sejarah Aktivisme Anti-Nuklir yang Jarang Diceritakan
  • Diplomasi Nuklir dan Kegagalannya: Pelajaran dari Perjanjian yang Lahir dan Mati
  • Bahaya Tersembunyi: Radiasi Nuklir dan Dampaknya pada Ekosistem Laut yang Sering Terlupakan
  • Hiroshima, 80 Tahun Kemudian: Mengapa Dunia Masih Belum Belajar dari Abu Nuklir
Slot Togel
SLOT777
https://devilsmaycry.com/
Tajir4D
https://asian2bet.us/
https://tajir4dresult.com/
slot gacor
Copyright 2026 — Zionist Organization of America. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme